Bagi penderita asam lambung, perlu berhati-hati dalam memilih menu buka puasa agar tidak memicu naiknya refluks asam.

5 Rekomendasi Menu Buka Puasa yang Aman untuk Lambung


Buka puasa adalah momen yang ditunggu-tunggu setelah seharian berpuasa. Namun, bagi sebagian orang, terutama yang memiliki masalah lambung seperti maag atau gastritis, berbuka bisa menjadi tantangan tersendiri. 

Sebab, keliru memilih menu buka puasa bisa saja memicu rasa tidak nyaman pada perut, gangguan pencernaan, bahkan masalah pada lambung. Jangan khawatir, dengan memilih menu yang tepat, kamu bisa menikmati buka puasa dengan nyaman tanpa khawatir mengganggu kesehatan lambung. 

Nah, mau tahu apa saja menu makanan yang aman untuk lambung? Berikut ulasannya!

Menu Buka Puasa yang Aman untuk Lambung

Bagi kamu yang memiliki masalah asam lambung, berikut menu buka puasa yang aman. Setiap menu dipilih berdasarkan kandungan gizi yang ringan dan mudah dicerna, serta dapat membantu menjaga keseimbangan pH lambung. 

1. Sup ayam kaldu

Sup ayam kaldu dengan bahan dasar ayam tanpa kulit, wortel, dan seledri adalah pilihan yang sangat baik untuk lambung sensitif. Kaldu ayam yang kaya akan nutrisi mudah dicerna dan tidak akan memicu produksi asam lambung berlebihan. 

Sup juga memberikan cairan yang dibutuhkan tubuh setelah berpuasa, menghindari dehidrasi yang bisa memperburuk gangguan pencernaan.

2. Bubur ayam atau bubur nasi

Bubur ayam atau bubur nasi merupakan hidangan yang lembut dan mudah dicerna. Karbohidrat dari nasi atau beras yang sudah dimasak menjadi bubur memberikan energi dengan cara yang tidak memberatkan lambung. 

Selain itu, tambahan ayam rebus tanpa bumbu pedas juga mendukung pemulihan tubuh setelah berpuasa tanpa memicu refluks asam.

3. Pisang dan yoghurt

Pisang merupakan buah yang kaya akan kalium dan bersifat alkali, yang membantu menetralkan asam lambung. Sementara itu, yoghurt mengandung probiotik yang mendukung kesehatan pencernaan. 

Kamu bisa membuat perpaduan menu yoghurt dengan topping pisang yang segar dinikmati ketika buka puasa. Kombinasi pisang dan yoghurt sangat baik untuk menyeimbangkan pH lambung dan meredakan iritasi yang mungkin terjadi setelah berpuasa.

4. Nasi putih dengan tumis sayuran

Nasi putih adalah sumber karbohidrat yang ringan dan mudah dicerna. Kamu bisa menambahkan tumisan sayuran sebagai sumber serat, seperti bayam atau brokoli. Tak hanya serat, sayur seperti bayam atau brokoli juga memberikan banyak vitamin dan mineral tanpa membuat lambung teriritasi. 

5. Tahu kukus dan tempe rebus

Tahu dan tempe adalah sumber protein nabati yang sangat baik dan lebih ringan bagi lambung dibandingkan dengan daging. 

Tak hanya aman dikonsumsi ketika berbuka puasa, tahu kukus atau tempe rebus juga mengandung sedikit lemak dan mudah dicerna. Protein yang terdapat dalam tempe dan tahu juga bisa membantu memperbaiki jaringan tubuh tanpa memicu refluks atau iritasi pada lambung. 

Dengan memilih menu-menu ini, kamu bisa berbuka puasa dengan aman dan tetap menjaga kesehatan lambung. Penting juga untuk selalu memperhatikan porsi dan cara pengolahan makanan untuk menghindari potensi gangguan pencernaan. 

Tips Berpuasa untuk Pengidap Asam Lambung

Berpuasa bagi pengidap asam lambung (GERD) atau gangguan pencernaan lainnya memang memerlukan perhatian khusus. Namun, dengan beberapa tips sederhana, kamu tetap bisa menjalankan ibadah puasa tanpa khawatir akan gangguan asam lambung. 

Berikut adalah beberapa tips berpuasa untuk pengidap asam lambung:

1. Pilih makanan yang ringan dan mudah dicerna saat sahur dan berbuka

Sebaiknya, pilih makanan yang mudah dicerna seperti nasi putih, bubur, atau roti gandum. Untuk sahur, pilihlah makanan yang tinggi serat dan protein seperti telur rebus atau tahu tempe yang bisa menjadi sumber energi bertahap sepanjang hari.

2. Hindari makanan yang memicu asam lambung

Beberapa makanan seperti makanan pedas, gorengan, coklat, dan citrus bisa memicu peningkatan produksi asam lambung. Hindari makanan-makanan tersebut baik saat berbuka maupun sahur. 

Konsumsilah makanan yang lebih ramah lambung seperti sayuran rebus, sup kaldu, atau protein tanpa lemak seperti ayam rebus atau ikan. 

3. Minum cairan yang cukup

Saat berbuka, hindari minum terlalu banyak cairan dalam satu waktu karena bisa menyebabkan perut terasa penuh dan meningkatkan tekanan pada lambung. Sebaiknya minum dalam jumlah kecil tapi sering untuk menghidrasi tubuh secara bertahap untuk membantu mencegah refluks asam. 

Kamu bisa coba menerapkan aturan minum air 2-4-2, yaitu 2 gelas saat berbuka puasa, 4 gelas sepanjang malam, 2 gelas saat sahur.

4. Makan dengan porsi kecil dan sering

Makan dengan porsi beras bisa memicu peningkatan asam lambung. Sebaiknya, makan dengan porsi kecil dan lebih sering, baik saat sahur maupun berbuka. Makan dengan porsi kecil dan sering akan membantu tubuh mencerna makanan dengan lebih baik dan mengurangi beban pada lambung.

5. Jangan langsung tidur setelah berbuka

Jika kamu langsung tidur setelah berbuka, bersiaplah untuk mengalami refluks asam lambung. Beri waktu tubuh untuk mencerna makanan dengan baik sebelum berbaring. Disarankan untuk menunggu setidaknya 2-3 jam setelah makan sebelum tidur untuk mencegah asam lambung naik ke esofagus. 

Apa Kata Studi Terkait Makanan untuk Penderita Asam Lambung? 

Dalam studi berjudul The Role of Diet in the Development and Management of Gastroesophageal Reflux Disease; Why We Feel the Burn (2019) yang diterbitkan Journal of Thoracic Disease, salah satu makanan yang sering dikaitkan dengan gejala GERD adalah makanan pedas. 

Walaupun makanan pedas tidak memengaruhi fisiologi tubuh secara langsung dan, tetapi makanan pedas bisa bertindak sebagai iritan langsung pada mukosa esofagus, dan menyebabkan rasa terbakar di dada atau heartburn, yang menjadi gejala khas GERD. 

Makanan pedas perlu dihindari sebagai makanan yang dikonsumsi ketika buka puasa karena bisa memperburuk gejala bagi orang yang mengidap asam lambung. Menghindari makanan yang memperburuk gejala asam lambung sangat penting. Tujuannya untuk membantu mengelola kondisi dengan lebih baik terutama ketika berpuasa. 


Referensi:
Cleveland Clinic. Diakses pada 2025. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Lifestyle Changes.
Journal of Thoracic Disease. Diakses pada 2025. The Role of Diet in the Development and Management of Gastroesophageal Reflux Disease: Why We Feel the Burn. 
Mayo Clinic. Diakses pada 2025. Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) diet: Foods to Eat and Avoid. 
National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK). Diakses pada 2025. Diet and Nutrition for GERD
WebMD. Diakses pada 2025. Tips for Living with GERD. 

Sumber

Jahe merah banyak mengandung zat aktif untuk menyembuhkan penyakit.


 

Jahe merupakan salah satu bahan alami atau herbal yang memiliki manfaat untuk kesehatan. Ada beberapa jenis jahe di pasaran, salah satunya jahe merah. 

Manfaat jahe merah berasal dari senyawa yang terkandung di dalamnya, seperti shogaol, gingerol, zingeron, dan masih banyak lagi. 

Dengan banyaknya kandungan zat aktif yang dapat menyembuhkan penyakit, tidak heran jika jahe merah sering dijadikan ramuan herbal. 

Yuk, simak selengkapnya seputar kandungan dan manfaat jahe merah di sini!

Kandungan Nutrisi Jahe Merah

Dalam setiap 100 gram, jahe merah mengandung gizi sebagai berikut:

  • Kalori: 80 kkal
  • Lemak Total: 0,8 g 
  • Lemak Jenuh: 0,2 g
  • Kolesterol: 0 mg 
  • Natrium: 13 mg 
  • Kalium: 415 mg 
  • Karbohidrat Total: 18 g 
  • Serat Pangan: 2 g
  • Gula: 1,7 g
  • Protein: 1,8 g 
  • Vitamin C: 8 persen 
  • Kalsium: 1 persen 
  • Zat Besi: 3 persen
  • Vitamin B6: 10 persen
  • Magnesium: 10 persen

Ini 7 Manfaat Jahe Merah untuk Kesehatan Tubuh

Jahe merah dikenal sebagai rempah yang kaya manfaat untuk kesehatan, di antaranya yaitu: 

1. Menghangatkan Tubuh

Jahe merah mengandung senyawa gingerol dan shogaol yang memberikan sensasi hangat saat dikonsumsi. 

Senyawa ini bekerja dengan meningkatkan sirkulasi darah dan merangsang produksi panas dalam tubuh, sehingga cocok dikonsumsi saat cuaca dingin atau setelah kehujanan. 

Selain itu, efek menghangatkan dari jahe merah juga bisa membantu meredakan kedinginan akibat kelelahan atau kurangnya energi dalam tubuh.

2. Membantu Mengatasi Sakit Kepala

Kandungan antiinflamasi dalam jahe merah dapat membantu mengurangi peradangan yang sering menjadi penyebab sakit kepala dan migrain. 

Jahe merah juga berperan dalam mengendurkan pembuluh darah yang tegang, sehingga aliran darah ke otak menjadi lebih lancar dan nyeri kepala berkurang.

3. Mencegah Radang Usus

Jahe merah memiliki sifat antiinflamasi dan antibakteri yang bermanfaat dalam menjaga kesehatan saluran pencernaan. 

Senyawa aktif dalam jahe merah membantu menenangkan iritasi di usus dan lambung, serta melawan bakteri jahat yang bisa menyebabkan peradangan. 

Selain itu, jahe merah juga berperan dalam mengurangi produksi gas berlebih di dalam perut, sehingga bisa membantu mencegah kembung dan gangguan pencernaan lainnya.

4. Memperkuat Imunitas Tubuh

Jahe merah kaya akan antioksidan yang berperan dalam menangkal radikal bebas dan meningkatkan daya tahan tubuh. 

Senyawa seperti gingerol dan shogaol memiliki sifat antibakteri dan antivirus yang bisa membantu tubuh melawan infeksi, baik yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. 

Rutin mengonsumsi jahe merah, terutama dalam bentuk teh atau ramuan herbal, dapat membantu tubuh tetap kuat dan tidak mudah terserang penyakit seperti flu, batuk, atau infeksi saluran pernapasan lainnya.

5. Meningkatkan Nafsu Makan

Jahe merah memiliki aroma dan rasa khas yang dapat merangsang produksi enzim pencernaan, yang pada akhirnya membantu meningkatkan nafsu makan. 

Jahe juga bekerja dengan meningkatkan sekresi asam lambung dalam jumlah yang seimbang, sehingga pencernaan menjadi lebih lancar dan tubuh lebih siap menerima asupan makanan. 

Oleh karena itu, jahe merah sering digunakan sebagai bahan dalam jamu tradisional untuk membantu orang yang mengalami masalah kurang nafsu makan, seperti anak-anak atau orang yang sedang dalam masa pemulihan setelah sakit.

6. Menjaga Kesehatan Jantung

Jahe merah juga dapat membantu menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah, yang jika dibiarkan tinggi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung. 

Selain itu, jahe merah memiliki sifat antikoagulan alami, yang membantu mencegah pembekuan darah berlebih dalam pembuluh darah dan mengurangi risiko tekanan darah tinggi. 

7. Mengobati Batuk

Jahe merah dikenal memiliki sifat ekspektoran yang membantu mengencerkan dahak dan meredakan batuk. 

Efek hangat dari jahe merah juga bisa membantu melegakan tenggorokan yang gatal dan mengurangi iritasi akibat batuk terus-menerus. 

Selain itu, jahe merah memiliki sifat antibakteri yang bisa membantu melawan infeksi di saluran pernapasan, menjadikannya obat alami yang efektif untuk batuk berdahak maupun batuk kering. 

Biasanya, jahe merah dikonsumsi dalam bentuk teh atau dicampur dengan madu untuk hasil yang lebih optimal.

Apa Kata Riset?

Sebuah riset dalam jurnal Molecules menyatakan bahwa jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum), mengandung 169 senyawa kimia, termasuk vaniloid, terpen, flavonoid, dan asam amino. 

Jahe merah memiliki berbagai manfaat terapeutik, seperti mengatasi peradangan, muntah, rubella, aterosklerosis, TBC, gangguan pertumbuhan, dan kanker. 

Secara ilmiah, jahe merah terbukti memiliki aktivitas imunomodulator, antihipertensi, antihiperlipidemia, antihiperurisemia, antimikroba, dan sitotoksik, yang menjadi dasar manfaat kesehatannya. 

Selain itu, hanya sedikit laporan mengenai efek sampingnya. Penelitian ini memberikan wawasan tentang kandungan bioaktif, mekanisme kerja, farmakokinetika, serta analisis kualitatif dan kuantitatif jahe merah.

Itulah beberapa manfaat jahe merah untuk kesehatan yang perlu diketahui. 

 

Referensi:
Delto. Diakses pada 2025. 8 Benefits of Red Ginger
Health Benefit. Diakses pada 2025. Health benefits of Red Ginger
US Department of Agriculture. Diakses pada 2025. Ginger root, raw.
Zhang S, et al. Diakses pada 2025. Zingiber officinale var. rubrum: Red Ginger’s Medicinal Uses.

Sumber

“Bulu halus dari ulat bulu yang mengenai kulit dapat menimbulkan alergi dan gatal-gatal. Kamu bisa mengatasinya dengan tidak menggaruk bagian yang gatal, menghilangkan bulu yang menempel, hingga menggunakan salep. "

Catat, Ini 8 Cara Mengobati Gatal karena Ulat Bulu


 

Ketika bersentuhan dengan kulit manusia, bulu-bulu ini dapat menyebabkan reaksi alergi dan iritasi. Gigitan ulat bulu dapat menimbulkan berbagai gejala seperti bercak kemerahan, bentol, rasa perih, pembengkakan, dan gatal.

Gatal akibat ulat bulu dapat sangat mengganggu dan menghambat aktivitas sehari-hari. Meskipun gejala tersebut biasanya akan mereda dalam beberapa saat, kamu juga bisa melakukan berbagai cara untuk meredakannya.

Pertanyaannya, bagaimana cara mengobati gatal-gatal akibat ulat bulu?

Cara Mengatasi Gatal karena Gigitan Ulat Bulu

Guna membantu mengurangi efek samping yang muncul karena gigitan serangga ulat bulu, kamu bisa mencoba melakukan beberapa hal berikut ini. 

1. Tidak menggaruk bagian yang gatal

Rasanya memang sulit menahan keinginan untuk menggaruk bagian tubuh yang terkena bulu ulat. Namun, sebaiknya kamu menghindari menggaruk bagian tersebut, karena bisa meningkatkan risiko munculnya infeksi pada kulit. 

Beberapa orang juga mengalami bentol dan ruam seperti biduran ketika terkena bulu dari ulat beracun ini. Namun, benarkan bulu ulat ini bisa memicu biduran? Kamu bisa mendapatkan jawabannya melalui artikel “Kena Ulat Bulu Bisa Sebabkan Biduran, Benarkah?

Alih-alih menggaruknya, kamu bisa menggunakan krim atau salep untuk membantu mengurangi gatal karena gigitan serangga. Simak rekomendasinya berikut ini:

2. Hilangkan bulu yang menempel pada kulit

Jika kamu mengalami kontak langsung dengan ulat bulu, segera hilangkan bulu yang menempel pada kulit. Kamu bisa menggunakan sarung tangan, selotip, atau kertas untuk mengangkat bulu yang menempel.

Sebisa mungkin, lakukan ini untuk mencegah gatal menyebar ke bagian tubuh lain. Sebab, bulu halus dari ulat bulu bisa saja terbang dan kemudian menyebarkan gatal ke area yang bahkan tidak menyentuh ulat bulu secara langsung.

3. Bersihkan area tubuh yang terkena ulat bulu

Setelah berhasil menghilangkan bulu yang melekat pada tubuh, cucilah area yang terkena bulu tersebut dengan menggunakan air hangat dan sabun untuk membantu menghilangkan racun yang tersisa.

4. Usap dengan garam

Menghilangkan rasa gatal akibat ulat bulu juga bisa menggunakan garam. Caranya juga sangat sederhana, usapkan garam dan gosokkan selama lima menit pada bagian tubuh yang terkena bulu. 

Garam bisa membantu menghilangkan bulu dan racun yang tak terangkat ketika kamu membasuhnya dengan sabun.

5. Minyak kelapa dan es batu

Selain itu, kamu juga bisa menggunakan minyak kelapa murni (virgin coconut oil) atau kompres dingin untuk mengurangi rasa perih, pembengkakan dan nyeri. Namun, apabila kedua kondisi tersebut tidak mereda, segera lakukan pemeriksaan medis untuk menghindari terjadinya reaksi alergi yang serius.

6. Menggunakan kunyit

Beberapa pakar menyebutkan, kunyit juga bisa kamu manfaatkan untuk mengatasi gatal akibat racun ulat bulu. Kunyit menjadi salah satu rempah dengan sifat antiinfeksi yang mampu membuat luka menjadi lebih cepat kering. 

Caranya, bersihkan kunyit dan parut hingga lembut. Kemudian, balurkan kunyit parut ke bagian kulit yang terkena ulat. Selanjutnya, tunggulah selama beberapa saat dan bilas dengan air bersih.

7. Soda kue untuk mengatasi gatal karena ulat bulu

Soda kue memang memiliki banyak fungsi, salah satunya termasuk meredakan gatal karena bulu ulat sekaligus mencegah gatal tersebut menyebar.

Caranya cukup mudah, campurkan satu sendok makan soda kue dengan satu hingga dua sendok makan air hangat. Lalu, aduk hingga tercampur sempurna dan oleskan ke bagian kulit yang terasa gatal.

8. Menggunakan salep

Jika cara sebelumnya tidak memberikan hasil yang optimal, coba gunakan salep hidrokortison atau antihistamin. Kamu juga sebaiknya segera melakukan pemeriksaan medis ke dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat. 

 

Pencegahan Reaksi Anafilaksis

Pencegahan reaksi anafilaksis adalah langkah krusial, terutama bagi individu yang memiliki riwayat alergi atau pernah mengalami reaksi alergi parah sebelumnya.

1. Identifikasi dan Hindari Pemicu Alergi

Langkah utama pencegahan adalah dengan mengidentifikasi dan menghindari pemicu alergi sebisa mungkin. Jika kamu mengetahui alergen spesifikmu, seperti bisa ulat bulu atau zat lainnya, hindari kontak langsung dengan alergen tersebut.

Bagi individu yang berisiko tinggi mengalami reaksi anafilaksis, dokter mungkin akan meresepkan epinephrine auto-injector yang harus selalu dibawa dan digunakan segera saat gejala reaksi alergi parah muncul. Penting juga untuk mengedukasi keluarga, teman, dan rekan kerja mengenai kondisi alergi kamu dan cara memberikan pertolongan pertama jika terjadi reaksi anafilaksis.

2. Kewaspadaan di Lingkungan Berisiko dan Perlindungan Diri

Meskipun reaksi anafilaksis akibat gigitan ulat bulu lebih jarang terjadi dibandingkan reaksi alergi lain, kewaspadaan tetap penting, terutama saat beraktivitas di alam terbuka yang mungkin menjadi habitat ulat bulu.

Kenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang saat berada di area yang banyak pepohonan atau semak-semak untuk meminimalkan risiko kontak dengan ulat bulu.

Hindari menyentuh ulat bulu secara langsung. Jika tidak sengaja terkena ulat bulu dan mengalami gejala seperti iritasi kulit atau infeksi kulit yang tidak biasa, segera lakukan pemeriksaan medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah reaksi alergi berkembang menjadi reaksi anafilaksis parah.


Referensi:
Verywell Health. Diakses pada 2024. What Parents Should Know About Caterpillars.
Medscape. Diakses pada 2024. Caterpillar Envenomation.
University of Kentucky. Diakses pada 2024. Insect & Pest Info. Stinging Caterpillars.

Sumber